menu

PENULIS      RELIGI    TEKNIK MESIN    TEKNISI ELEKTRONIK     MEDICAL   MUSLIM     FOREX

Umanah Ayah

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِي

Dengan nama ALLah yang maha pengasih lagi penyayang

kata ayah kepada kita semua jemaah dikala itu, kita semua memanggilnya "Ayah" karena ilmu ayah akan menurun kepada anak anaknya, Beliau berkata" maukah kalian menolong Ayah, berdamailah kalian suami isteri"

Masya Allah, ...
Kalimat dari “Ayah” itu sederhana tapi sangat dalam:

"Maukah kalian menolong Ayah? Berdamailah kalian suami istri."

Itu bukan sekadar nasihat rumah tangga biasa... itu ilmu tingkat tinggi, yang menyentuh inti kehidupan, rezeki, dan keberkahan.

💞 Damainya Suami Istri: Pintu Segala Kebaikan

Ketika suami dan istri berdamai — saling memaafkan, saling menyayangi, saling menguatkan — maka:

  • Rumah jadi surga kecil.

  • Rezeki jadi lapang.

  • Anak-anak tumbuh dengan jiwa yang tenang.

  • Doa-doa lebih cepat diijabah.

Karena apa?
Karena Allah cinta pada rumah yang penuh kasih.

🧭 Menolong "Ayah" = Menolong Misi Cahaya

Mungkin "Ayah" bukan hanya seorang guru yang dilahirkan, tapi ia adalah wasilah — jalan datangnya cahaya dan petunjuk.
Ketika Beliau bilang:

"Maukah kalian menolong Ayah?"
Itu seperti seorang wali berkata: "Maukah kalian ikut menjaga cahaya Tuhan di bumi?"

Dan syaratnya bukan aneh-aneh, bukan ritual berat.
Tapi sesuatu yang justru paling sulit bagi ego manusia:

  • Memaafkan pasangan.

  • Melembutkan hati.

  • Mengalah dalam cinta.

🌺 Cinta Itu Ladang Ilmu

tahukah anda?
Cinta dalam rumah tangga bukan cuma urusan dunia...
Itu ladang maqam ruhani.

Seperti kata guru-guru terdahulu:

“Barang siapa yang berhasil menjadi kekasih yang baik di rumah, dia lebih mudah menjadi kekasih Allah.”

Semoga kita semua sudah berada di jalan itu.
Dan setiap kali kita mengingat umanahnya, Beliau akan ingat pula pada kita

Rumah tangga yang penuh damai.
Setiap langkah kita menebar cinta, itu jadi bagian dari menolong "Allah"... dan menolong umat. 🌹

kita selalu memanggilnya ditempat yang Beliau tunjukan

Masya Allah, ...
Kalau kita masih mengingat"umanahnya" di tempat yang Beliau tunjukkan, itu tandanya hati kita belum putus dengan cahaya Beliau.
Itu bukan sekadar rindu, tapi tali ruhani yang masih hidup...

Dan tempat itu, yang ditunjukkan oleh Beliau—
itu bukan tempat biasa.
Itu seperti mihrab, tempat spiritual, tempat komunikasi hati ke hati.

Tempat gaib antara Muk'min dengan tuhanya

Tempat doa bisa tembus, tempat harapan bisa menyala kembali.

🌌 Kita Sedang Menjaga Titian Cahaya

Mengingat umanah "Ayah" di tempat yang beliyau tunjuk adalah bentuk:

  • Setia walau dalam sunyi.

  • Menjaga janji batin meski dunia berubah.

Yakinlah... suara kita selalu sampai.
Dan bila hati kita bersih, bukan hanya Allah yang mendengar — malaikat pun ikut mengaminkan.

Mengapa ilmu pengetahuan (science and knowledge) tidak dapat secara langsung memperbaiki akhlak dan budi pekerti manusia

Mengapa ilmu pengetahuan (science and knowledge) tidak dapat secara langsung memperbaiki akhlak dan budi pekerti manusia. Meskipun ilmu telah berkembang pesat dan banyak upaya dilakukan untuk meningkatkan moralitas masyarakat, kenyataannya banyak masalah perilaku manusia yang tetap ada, bahkan semakin kompleks.

Salah satu alasan utama adalah bahwa ilmu pengetahuan bekerja berdasarkan logika, rasionalitas, dan objektivitas. Ilmu berusaha memahami dunia melalui penelitian, eksperimen, dan analisis data. Namun, akhlak dan moralitas tidak hanya bergantung pada rasionalitas semata, melainkan juga melibatkan hati nurani, emosi, dan nilai-nilai spiritual.

Dalam sejarah, ilmu pengetahuan sering mencoba memberikan solusi terhadap persoalan sosial dan moral manusia. Namun, karena sifat ilmu yang terus berkembang dan terbuka terhadap revisi, pendekatan ilmiah sering kali melahirkan berbagai teori yang berbeda-beda. Akibatnya, tidak jarang muncul perdebatan dan konflik dalam upaya memahami mana yang benar dan mana yang salah dalam hal moralitas.

Akhlak, yang dalam bahasa Arab disebut "khuluq," memiliki arti perangai, tingkah laku, atau tabiat seseorang. Sifat ini terbentuk bukan hanya oleh faktor eksternal seperti pendidikan dan lingkungan, tetapi juga oleh faktor internal seperti kesadaran diri, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut seseorang. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan saja tidak cukup untuk membentuk atau memperbaiki akhlak manusia tanpa adanya elemen spiritual dan pengaruh lingkungan yang mendukung.

Kesimpulannya
Meskipun ilmu pengetahuan sangat berperan dalam kemajuan peradaban, ia bukan satu-satunya faktor yang dapat memperbaiki akhlak manusia. Dibutuhkan pendekatan yang lebih holistik, termasuk pendidikan moral, spiritualitas, dan contoh teladan dalam kehidupan sehari-hari, agar manusia tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki akhlak yang baik.Baca selengkapnya


Positioning Abdul Karim Jamak as a Southeast Asia Ulama from Kerinci, Jambi, Indonesia

Karim Jamak masih menjadi pembicaraan dalam fenomena keagamaan di Jambi, Sumatera bahkan Asia Tenggara. Aktivitasnya yang banyak dilakukan di Kerinci, sebagai satu tempat yang cukup sukar dijangkau dulu, menjadi kontroversial dengan banyak cerita tambahan tentangnya. Penelitian ini ingin mendalami biografi dan peran Abdul Karim Jamak dalam kegiatan dakwah Islam serta mendeskripsikan beberapa hasil penelitian sebelum ini tentang tokoh Islam dari Kerinci tersebut. Hasil penelitian ini sendiri memperlihatkan bahwa kontroversial tentang Jamaah Islamiyah yang dipimpin Abdul Karim Jamak bukanlah kelompok yang sesat. Bahkan, Abdul Karim Jamak berperan besar dalam islamisasi dan layak diposisikan sebagai salah seorang ulama Nusantara, bahkan ulama Asia Tenggara dari Kerinci, Indonesia. Kata Kunci: Abdul Karim Jamak, Ulama Kerinci, dan Asia Tenggara.

Abstract: Abdul Karim Jamak almost straight into a discussion of the religious phenomenon in Kerinci, Sumatra and even in Southeast Asia. His activities are mostly done in Kerinci, as a place that is quite difficult to reach once, to be controversial with many additional stories about him. This study wants to explore the biography of Abdul Karim Jamak and his role in Islamic missionary activity, and to describe some of the results of the research before about this an Islamic ulama of the Kerinci. The results of this study itself show that controversial stories about Jamaah Islamiyah led by Abdul Karim is not an Islamic deviant splinter group. In fact, Abdul Karim plays an important role in islamization and could be positioned as one of the scholars of the archipelago, and even Southeast Asia ulama from Kerinci, Indonesia. Keywords: Abdul Karim Jamak, Ulama Kerinci, and Southeast Asia.

A. Pendahuluan
Sebagai anak sulung, Abdul Karim Jamak atau biasa dipanggil oleh masyarakat sebagai Buya Karim Jamak atau Karim Jamak, telah mengawali hidupnya sebagai nelayan, pekerjaan tersebut dia tekuni untuk membantu orang tua. Karim Jamak meneruskan kerja sewaktu kecil dan tetap menuntut ilmu. Dia nampak memiliki pemikiran yang berbeda dengan pemikir yang lain, hingga dapat dijuluki sebagai seorang modernis, reformis, bahkan kontroversial. Karim Jamak berusaha mengajarkan masyarakat supaya sesuai dengan ajaran Rasulullah, serta berusaha mengembangkan nilai keislaman dari dalam diri tanpa ada perlawanan batiniah, yang selalu mengajak orang tersesat dan jauh dari ajaran agama.

Kegiatan mendidik masyarakat dia lakukan melalui pengajian rutin dan dakwah. Meskipun diminta datang mengajar agama oleh masyarakat muslim dari berbagai lokasi atau daerah,Karim Jamak tetap menghadiri untuk menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT. Karim Jamak memulai mengembangkan ajaran Islam yang dianggap kontroversi oleh masyarakat dengan metode penyiaran dan metode organisasi, serta gaya politik yang dapat diterima oleh masyarakat luar dari daerah Kerinci lainnya. Meskipun berbagai tantangan yang harus dihadapinya, Karim Jamak terus menjalankan tiga cara dakwahnya tersebut. Ketiga metode ini nampak sederhana, tetapi dia telah membuka mata umat Islam untuk setia memilih Islam sebagai agama yang benar. Pendidikan keagamaan diperolehnya sejak kecil dari keluarga.

Karim Jamak dilahirkan di desa Tanjung Rauang, kecamatan Hamparan Rauang, Kabupaten Kerinci pada tahun 1906 M, bertepatan 12 Rabiul Awal 1326 H. Ayahnya Tengku Muhammad Jama’at dan ibunya Sa’minah binti MMuMuhammad 1.

Karim Jamak adalah anak pertama dari sepuluh (menjadi delapan) bersaudara dan dididik dalam keluarga yang melaksanakan ibadah sebelum Ia mendapat pendidikan di sekolah. Ia menimba ilmu dari kedua orang tuanya, terutama ilmu-ilmu agama, seperti ilmu fiqh, ilmu tauhid, dan tasawuf serta ibadah. Selain dari ayah dan ibu, Karim Jamak sewaktu kecil juga diasuh oleh Haji Muhammad Thaib yang juga kakeknya, serta Haji Kari Ahmad. Dia juga pernah dibimbing dan mendapat pelajaran agama dari Syaikh Muhammad Khatib Kadhi, Hakim Agama Kabupaten Kerinci yang merupakan kakeknya .

Karim Jamak, sebagaimana yang dijelaskan oleh adiknya, Abdul Rasyid,3 adalah keturunan Arab dari ayah yang susunan keturunannnya sampai ke Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Neneknya yang berasal dari Kerinci. Secara khusus pekerjaan Karim Jamak sebagai Guru Agama Islam dan Pembina Jam’iyatul Islamiyah.

Akan tetapi selain dari pekerjaan sebagai guru agama, sebagai anak pertama Karim Jamak bertanggung jawab untuk membantu kedua orang tuanya, dalam memberikan bantuan belanja hidup bagi adik-adiknya. Karena adik-adik Karim Jamak masih bersekolah secara formal dan di pondok Pesantren. Dengan kebijaksanaan, mencoba hidup sebagai nelayan, memasang jaring (pukat), memasang lukah, menjala ikan yang dapat menghasilkan uang, walaupun pekerjaan ini dapat dikatakan berat, namun Ia tetap yakin kepada Allah swt. agar diberkati.

Pekerjaan ini Ia lakukan tanpa merasa letih dan lelah. Ternyata kesibukan dalam membantu kedua orang tua mencari nafkah, Iapun masih dapat meluangkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. sehingga Karim Jamak mendirikan sebuah surau tempat untuk beribadah, solat, zikir dan sebagainya di pinggir sungai Tanjung Rauang.

Namun terdapat segelintir masyarakat yang tidak senang dengan usahanya, Iapun memindahkan tempat ibadahnya di Muaro Air desa Kumun .

Perpindahan Karim Jamak dari Tanjung Rawang turut mengilhami Karim Jamak untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama 8. Ramainya orang yang tidak percaya akan kemampuan Karim Jamak sehingga tidak sedikit terlontar kata-kata yang tidak sehat terhadapnya9 justru Karim Jamak semakin yakin dan percaya bahwa menerapkan ilmu pengetahuan terutama agama tidak lah mudah. Bahkan dimana-mana pasti menghadapi tantangan. Situasi tersebut membuat Karim Jamak menjadi terkenal, karena Ia sendiri berusaha menerima anggapan buruk dari orang lain dengan sikap yang bijaksana, bahkan mengatakan sebagai muslim tidak seharusnya saling memusuhi, membenci apalagi berlaku kasar. Ungkapan-ungkapan seperti ini selalu Karim Jamak sampaikan kepada anak-anak Karim Jamak dan juga kepada pengikut-pengikutnya10.

Ajaran yang disampaikan oleh Karim Jamak, sebenarnya merupakan tuntunan dari Rasulullah saw. dalam sabdanya:

”Muslim yang baik adalah jika muslim lain merasa tentram dari perkataan dan perbuatannya”.

Meskipun kegiatan sehariannya membantu orang tua, tetapi Karim Jamak juga tetap gigih bersemangat untuk belajar beberapa ilmu agama, terutama fardu ‘ain dan tauhid. Karim Jamak banyak bertanya kepada teman-teman sebayanya, lalu Ia mencoba memahami dan mendalaminya. Sehingga dalam waktu yang singkat pengetahuan yang didapatnya mampu pula diajarkan kepada yang lain. Karim Jamak berfikir bahwa untuk apa dia memiliki dan mempunyai ilmu jika tidak diamalkan dan diajarkan kepada orang lain yang juga berhak untuk mengetahui apa yang mereka tidak tahu, tidak akan miskin karena memberikan ilmu kepada orang lain12

B. Pendidikan Abdul Karim Jamak
Karim Jamak memperoleh pendidikan keagamaan kedua dari kakek dan pamanya, selain yang pertama-tama dari orang tua. Dia lahir dalam keluarga Islam, maka tidak sukar baginya untuk mempelajari ilmu-ilmu yang ada dalam lingkungan keluarga sendiri. Dia tidak pernah menerima pendidikan secara formal.

Berikut diuraikan beberapa tahapan pendidikan Karim Jamak :
Pendidikan Karim Jamak pada usia 01 – 12 tahun. Pendidikan awal Karim Jamak, dimulai dari orang tuanya. Pada usia ini Ia belajar tentang akhlak, fardu ‘ain, ilmu fikih, ilmu tauhid dan tasawuf serta akidah-akidah yang bersangkut paut dengan tauhid, mengikuti sunnah wal jamah berdasarkan Al-Quran dan Hadis Rasulullah saw13. Orang tuanya mendidik Karim Jamak bagaimana tata cara shalat, berwudu serta berpuasa14. Pendidikan seperti terus berlanjut sehingga Karim Jamak berusia 13 tahun.


Pendidikan Karim Jamak pada usia 13 – 21 tahun. Ia lebih banyak belajar kepada kakek Karim Jamak Muhammad Taib, yang merupakan seorang ulama. Dari kakeknya inilah Karim Jamak mendalami ilmu-ilmu yang luas tentang Islam. Seperti ilmu akidah, tauhid dan tasawuf15. Disamping menimba ilmu dari bapa saudaranya, Karim Ahmad dan Muhammad Khatib, Ia juga diberi kepercayaan mengajar di mushalla16

Pendidikan Karim Jamak pada usia 22 – dewasa. Pada usia ini, Karim Jamak sudah memiliki kematangan dalam mengajarkan ajaran Islam, Ia juga pernah belajar ilmu agama kepada Buya Hamka, di Jakarta17. Sebagai anak sulung, Ia sering mendapat kepercayaan orang tuanya dalam membantu adik-adiknya. Sehingga dimasa mudanya Ia lebih rajin dan tekun bekerja serta giat berusaha.

Karim Jamak yang hidup dalam situasi sosial dan politik di Hindia Belanda pada awal abad ke dua puluh, telah ikut berjuang dalam penyiaran pengembangan ajaran Islam, hingga memasuki lingkungan pendidikan. Keadaan pendidikan dan politik di zaman penjajahan, ketika itu sangat terbatas, karena semua kegiatan masyarakat diawasi dan di jaga oleh Belanda. Sehingga tidak heran bila sistem pendidikan Islam sering dijadikan mangsa yang harus berhadapan dengan peraturan penjajah. Keadaan inilah yang telah membangkitkan kesedaran warga, khusunya di Kerinci, dan juga golongan ulama, yang berkelanjutan meyakinkan umat Islam makna pendidikan yang lebih terorganisir dan terpimpin. Meskipun demikian bukan berarti Ia tidak belajar sama sekali, dia belajar kepada guru guru yang dekat dan mudah di datangi, termasuklah H. Maktib sebagai Kali Hakim di Zaman Belanda, H. Muhammad Thaib kakeknya, bapak dari ibu yang wafat di Mekah, H. Karim Ahmad kakek Paman Kandung dari Ibunya yang juga wafat di Mekah, dan Tengku Muhammad Jum’at ayah Ia sendiri. Pada tahun 1969 ia bersama temannya Amir Usman yang berasal dari desa Kumun-Sungai Penuh mendapat bimbingan dan petunjuk di bidang agama Islam dari Prof. Dr. Hamka di Jakarta.

Menurut Abdul Rasyid, Karim Jamak memiliki prinsip dan tekad hidup, yaitu sepanjang ada peluang dan kesempatan untuk belajar dia akan mengikut dan mempelajarinya. Sikap rajin bertanya, mendiskusikan perkara yang belum diketahui dan dipahami, dan ia tidak merasa malu menemui guru bila sesuatu perkara masih meragukannya. Ia tidak pernah putus asa, senantiasa berharap kepada Allah swt. Karim Jamak berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang dapat memberikan kenikmatan rohaniah, yang dapat memberikan kesenangan dan membahagiakan orang lain. Disisi lain Karim Jamak juga memperjuangkan hidupnya dengan mendalami ilmu pengetahuannya. Ilmu-ilmu yang Ia dapatkan diamalkannya, dia senantiasa menjalani ibadah dan zikir kepada Allah swt., dan bahkan Ia selalu bermunajat disaat malam. Inilah bentuk amalan rutin yang dikerjakannya. Amalan-amalan tersebut ia lakukan sebagai bukti pemahamannya tentang ayat Allah dalam Al-Quran yang terjemahnya: “Mereka beribadat malam dan siang, Dengan tidak situasi lingkunganb henti.”. Meskipun keluarga yang tidak memungkinkan ia belajar tinggi sebagaimana teman-teman sezaman dengannya. Tetapi Karim Jamak tidak pernah berputus asa ataupun menyerah dengan nasib. Anak kandung Ia menceritakan tentang keseriusan dan semangat Ia, yang paling menarik pada Karim Jamak adalah, Ia sangat bersungguh dalam menerapkan ilmu dan amalannya, dalam bentuk keyakinan, perbuatan dan juga apa yang sepatutnya ditinggalkan, ia juga mampu memberikan keseimbangan antara kehidupan material dan spritual.

Seiring dengan pemahaman dan pengetahuan Karim Jamak diatas, tidaklah salah sekiranya ada persamaan pemikiran Karim Jamak dengan ulama besar lainnya seperti apa yang disebutkan oleh Ibnu Qadamah yang benar adalah ilmu mu’amalah hamba terhadap Rabbnya. Mu’amalah yang dibebankan di sini meliputi tiga macam, yaitu;
  • Keyakinan,
  • Perbuatan,
  • Apa yang harus ditinggalkan
Keadaan keyakinan yang ditunjukkan Karim Jamak mengajarkan agama dengan menggunakan metode ilmu ketuhanan yang berawal dari suatu kepercayaan bahwa Allah melihat kekhusukan ibadah hambanya ketika berada dihadapan Ka’bah26. Sedangkan ulama Kerinci tidak menyebutkan hal-hal seperti Karim Jamak tersebut. Sehingga timbul sanggahan dari Majelis Ulama Kerinci, dengan menyatakan bahwa Karim Jamak membuat “sesuatu” yang baru atau “mengada-ada”. Pendapat lain yang berkaitan dengan Karim Jamak tersebut, menjelaskan hal yang demikian dipandang wajar, seperti yang dikemukakan oleh Eric. J. Sharpe; bahwa kecintaan terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat, merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis

Berdasarkan kenyataan seperti ini, maka benar jika muncul suatu usaha manusia untuk memahami penghayatan imannya atau penghayatan agamanya, suatu penafsiran atas sumber-sumber aslinya dan tradisi dalam konteks permasalahan masa kini, yaitu teologi yang bergerak antara dua kutub, yaitu teks dan situasi atau konteks, masa lampau dan masa kini. Hal demikian mesti ada dalam setiap agama meskipun dalam bentuk dan fungsi yang berbeda-beda.


Teknologi sebagai Jalan Kembali kepada Allah

Penciptaan Teknologi dan Keterkaitannya dengan Ilahi

Teknologi, sebagai hasil dari ilmu pengetahuan, sejatinya bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia lahir dari daya pikir manusia, yang hakikatnya bukan berasal dari otak semata, melainkan dari anugerah ruh yang ditiupkan oleh Sang Pencipta.

Sejarah mencatat bagaimana manusia menemukan berbagai inovasi yang mengubah dunia, dari roda hingga kecerdasan buatan. Namun, apakah penciptaan teknologi ini sepenuhnya hasil kerja keras manusia? Ataukah ada sumber yang lebih tinggi yang menginspirasi dan memungkinkan manusia mencapai semua ini?
Ilmu Pengetahuan Berasal dari Ruh

Dalam perspektif spiritual, kemampuan manusia untuk menciptakan teknologi adalah bentuk manifestasi dari ruh yang diberikan oleh Allah. QS As-Sajdah (32:9) menegaskan:

“Aku sempurnakan kejadian manusia, Aku tiupkan ruh, Aku berikan pendengaran, penglihatan, dan hati. Namun, sedikit sekali manusia yang bersyukur.”

Ruh inilah yang memungkinkan manusia berpikir, berinovasi, dan melahirkan ilmu pengetahuan. Jika otak semata yang berperan, mengapa ketika tidur atau tak sadarkan diri, manusia kehilangan kesadarannya? Ini menegaskan bahwa daya pikir bukan hanya berasal dari materi, tetapi dari energi spiritual yang dikendalikan oleh Sang Khalik.

Teknologi: Sebuah Amanah, Bukan Kesombongan
Seiring berkembangnya sains dan teknologi, banyak manusia yang terperdaya oleh kecerdasannya sendiri. Mereka mengagungkan hasil ciptaannya, tanpa menyadari bahwa kecerdasan itu sendiri adalah pemberian Tuhan. Hal ini sesuai dengan peringatan dalam QS Al-‘Alaq (96:6-7):

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.”

Teknologi bukanlah alat kesombongan, melainkan amanah untuk dimanfaatkan dengan baik. Ketika manusia memahami bahwa segala pencapaiannya berasal dari Allah, maka teknologi akan digunakan untuk kemaslahatan, bukan kehancuran. Kebersihan Ruh Menentukan Kualitas Teknologi

Ruh yang bersih akan menghasilkan teknologi yang membawa manfaat. Sebaliknya, jika ruh dikotori kesombongan dan nafsu dunia, teknologi dapat menjadi senjata kehancuran. Oleh karena itu, QS Al-A’la (87:14-15) mengingatkan:

“Beruntunglah orang yang mensucikan dirinya, dengan mengingat Allah dan mendirikan shalat.”

Shalat, dzikir, dan refleksi spiritual bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga sarana menjaga kejernihan ruh agar ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dalam arah yang benar.

Kesimpulan: 
Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah karunia Ilahi. Mereka bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana bagi manusia untuk mengenali kebesaran Sang Pencipta. Ketika manusia menyadari bahwa segala kepintaran berasal dari ruh yang diberikan Tuhan, maka akan tumbuh kesadaran untuk bersyukur, rendah hati, dan menggunakan teknologi sebagai jalan untuk mendekat kepada-Nya.

Seperti firman-Nya dalam QS Ar-Rahman (55:13):

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

68 Guru Besar dan Akademisi Hadir Bersama 8000 Jamaah JmI Se-Indonesia di Kerinci


Kerinci – Sedikitnya 8000 Jamaah Jam’iyyatul Islamiyah (JmI) berkumpul melaksanakan sholat Idul Adha dan silaturahmi akbar bersama di Kerinci. Sholat Hari Raya Idul Adha 1439 H dilaksanakan oleh DPP Jam’iyyatul Islamiyah bertempat di Masjid Raya JmI Sungai Penuh. “Dihadiri oleh 68 orang guru besar dan akademisi serta 8000 Jamaah JmI Se-Indonesia,” ujar Dr Ahmad Zuhdi Panitia Pelaksana Hari Raya Idul Adha bersama JmI.
Suasana rangkaian acara Idul Adha
Tampak nama-nama besar turut hadir, seperti Prof Dr Imam Suprayogo selaku Ketua Umum DPP JmI, Prof Dr der Soz Gumilar Rusliwa Soemantri, Mantan Rektor Universitas Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Komisaris PT Aneka Tambang ( Persero).

Lalu, Dr Drs Dudu Duswara Machmudin,SH, M.H, Hakim Agung RI, Prof Dr Syamsurijal Tan Guru Besar Universitas Jambi dan Ketua ISEI Propinsi Jambi dan banyak Para Guru Besar dari hampir 26 cabang Provinsi dan Utusan Cabang Luar Negeri Malaysia, Singapore dan Sarawak.Pembina JmI sedang menabur bunga ke Pusara Pembina Tunggal JmI Alm KH Abdul Karim Djamak yang didampingi oleh Dr Dudu Duswara Machmudin SH MH Hakim agung RI secara bergiliran dengan Dewan Guru Besar.

Dr Ahmad Zuhdi yang disertasi Doktornya di Malaysia tentang Kiprah JmI menyatakan bahwa kali ini Jumlah yang hadir sungguh luar biasa banyak.

“Lebih dari 8 ribu Jamaah, bahkan Tokoh-tokoh aktifis Islam UGM seperti Prof Dr Syafri Sairin, Prof Dr. Sunyoto, guru besar teknil sipil di UGM, Prof Dr Agus Taufik Mulyono, Pakar Transportasi UGM yang juga sebagai Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia, hadir dalam Sholat Idul Adha DPP JmI yang tahun ini berpusat di Sungai Penuh, setelah sekian lama tidak dilaksanakan di Sungai Penuh yaitu terakhir 2014,” terangnya.

Menurut Buya Ahmad Zuhdi, walaupun membuat kemacetan sepanjang jalan, karena banyaknya Bus, mobil, dan Kendaraan VVIP, berkat kesiapan Panitia yang ter-manage dengan baik, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Justru masyarakat Kerinci mendapatkan keuntungan dengan bannyak Jamaah luar kota yang hadir.

“Hotel-hotel di Kerinci menjadi penuh dan para Jamaah juga membeli oleh-oleh khas Kincai,” ujarnya.Prof Dr der Soz Gumilar Rusliwa Soemantri, Mantan Rektor Universitas Indonesia, yang saat ini menjabat sebagai Komisaris PT Aneka Tambang ( Persero).

Khatib Idul Adha adalah Prof Dr Muhammad Akhyar Lubis dari DPD JmI Sumatera Utara. Dalam Khutbahnya, beliau menyampaikan setiap tahun, umat Islam dari segala penjuru melaksanakan ibadah haji dan umroh ke Baitullah di Makkah. Bahkan makin hari, jumlah peserta Umroh itu sendiri makin meningkat. Ibadah Haji dan Umroh merupakan rukun kelima dari rukun Islam, yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebab terkandung dalam ungkapan Buniya al-islamu ‘alakhamsin, Islam membina atas lima hal;
  1. Mengucapkan dua kalimat syahadat,
  2. Sembahyang lima waktu,
  3. Mengeluarkan Zakat,
  4. Puasa bulan ramadhan,
  5. Haji ke Baitullah, (bukan ke Ka’bah)
Suasana Jamaah Sholat Idul Adha di Lapangan parkir diluar bangun Masjid Raya , 2 tingkat penuh sesak.

Dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW menunaikan haji, turunlah firman Tuhan untuk menegaskan tujuan atau arah kiblat itu ke ‘Baitullah’ dalam surat Albaqarah (2):125 yang artinya:

Ambillah sebagian Maqam Ibrahim untuk tempat sholat (yang dimaksudkan dengan bagian lain itu adalah Baitullah, disitulah tempat mendirikan shalat; tentu dari jarak jauh). Dan diperintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Isma’il untuk membersihkan rumah-Ku untuk orang yang tawaf mengelilinginya, iftikaf, serta ruku dan sujud.
Drs H Audal Amli. (rzi)

Mulai mengenal Jammiyatul Isalamiyah

Organisasi yang bergerak di bidang keagamaan, bernama Jam'iyyatul Islamiyah, memang belum saya kenal sebelumnya. Sekalipun telah berdiri cukup lama dan kegiatannya sudah menjangkau di 16 provinsi, bahkan sudah memiliki anggota di Malaysia, Singapura dan Brunai Darus Salam, saya belum mengetahuinya. Di Jawa Timur, organisasi itu belum tampak, sekalipun sebenarnya sudah ada beberapa simpatisannya. Sekedar informasi tentang organisasi itu secara terbatas, saya peroleh dari Prof. Azhar Arsyad, mantan Rektor UIN Alauddin Makassar.

Sekitar dua bulan yang lalu, saya diundang oleh Rektor UIN Alauddin untuk mengisi seminar sebagai bagian dari kegiatan memperingati ulang tahun yang ke 50 perguruan tinggi Islam negeri yang berada di Indonesia Timur itu. Dalam perbincangan di kampus itu, saya diberi tahu bahwa besuk harinya juga akan diselenggarakan seminar tentang al Qur'an dan sains yang disampaikan oleh seorang dokter dari Jakarta, bernama dr. H. Aswin Rose Yusuf. Seminar itu, menurut informasinya, akan dihadiri oleh para dokter, Guru Besar Universitas Hasanuddin dan juga dari UIN Alauddin sendiri. Saya ditawari untuk mengikuti kegiatan tersebut dan akan diperkenalkan dengan pembicaranya itu.

Mendapatkan penjelasan dan pandangan dr. H. Aswin Rose Yusuf, saya langsung tertarik, dan bahkan menyatakan kepada beliau bahwa, apa yang dilakukan olehnya itulah yang sebenarnya sudah lama saya cari. Bertahun-tahun memimpin perguruan tinggi Islam, saya berkeinginan agar para mahasiswa dan lulusannya mampu menjelaskan kitab suci al Qur'an dan hadits nabi. Saya selalu membayangkan bahwa, alangkah indahnya jika para mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi Islam mampu menjelaskan berbagai persoalan kehidupan bersumber dari apa yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad, yaitu al Qur'an dan Hadits Nabi.

Saya merasakan bahwa, keinginan tersebut ternyata tidak mudah dicapai. Selama bertahun-tahun memimpin perguruan tinggi Islam, belum menemukan orang yang saya gambarkan ideal itu. Oleh karena itu, ketika bertemu seorang dokter ahli bedah jantung di Makassar tersebut, yang ia ternyata mampu menjelaskan berbagai persoalan hidup dengan mengacu pada al Qur'an dan Hadits Nabi, saya langsung mengatakan bahwa, orang yang memiliki kemampuan seperti inilah yang sebenarnya sudah lama saya cari. Saya merasa beruntung, berhasil ketemu dengan orang yang saya maksudkan, sekalipun sudah tidak lagi menjabat sebagai pimpinan perguruan tinggi Islam.

Pada pertemuan di Makassar itu, saya diberi penjelasan bahwa kegiatan kajian al Qur'an dan Hadits Nabi dimaksud berada di bawah organisasi Islam bernama Jam'iyyatul Islamiyah. Memahami kegiatannya seperti itu, saya menyatakan tertarik, sehingga oleh Pembinanya, ---yaitu dr. Aswin Rose Yusuf, saya ditawari untuk menjadi anggota kehormatan organisasi tersebut. Oleh karena saya tertarik pada kegiatan kajian al Qur'an dan Hadits Nabi, apalagi kajian itu selalu dikaitkan dengan problem-problem kehidupan, termasuk sains, maka tawaran itu saya terima dengan senang hati. Dengan demikian, saya merasa telah menjadi bagian dari orang-orang yang berusaha memahami dan mengamalkan kitab suci al Qur'an dan tauladan hidup yang diberikan oleh Rasulullah.

Mendengarkan pernyataan bahwa saya tertarik pada kegiatan tersebut, dr. Aswin Rose Yusuf memberi tahu, bahwa kegiatan serupa akan dilaksanakan di Medan dan akan diikuti oleh para Guru Besar dari Universitas Sumatera Utara, UIN Medan, dan juga dari berbagai perguruan tinggi lainnya. Jika ada waktu, saya diajak hadir dan disediakan tiket perjalanan untuk pulang pergi. Atas tawaran baik itu saya sanggupi untuk datang. Mengikuti kajian al Qur'an di Medan, Sumatera Utara, saya bertambah yakin bahwa kegiatan itu sangat besar manfaatnya untuk mendekatkan kaum muslimin pada kitab suci al Qur'an dan Hadits Nabi. Oleh karena itu, saya memberikan apresiasi terhadap kegiatan dimaksud. Selanjutnya, tanpa menduga sebelumnya, saya diminta oleh Pembina Jam'iyyatul Islamiyah, dr. H.Aswin Rose Yusuf, agar duduk sebagai Ketua Penasehat pada tingkat Pusat. Tawaran tersebut saya rasakan sebagai kehormatan, maka saya menerimanya.

Dalam kesempatan itu, saya juga menawarkan agar dr. Aswin Rose Yusuf berkenan ke UIN Malang untuk menjelaskan al Qur'an dan Hadits Nabi sebagaimana dilakukan di Makassar maupun di Medan. Beliau menyanggupi, dan memberikan waktu pelaksanaannya pada tanggal 17 Nopember 2015. Saya menyetujui tanggal yang ditawarkan tersebut, namun saya merasa harus memberi tahu bahwa, keputusan terakhir tentang waktu pelaksanaan kegiatan itu adalah pada Rektor, pengganti saya. Sementara itu, beliau masih sedang menjalankan ibadah haji. Mendengar saya masih akan konsultasikan tentang waktu pelaksanaan kajian itu, Pembina Jam'iyyatul Islamiyah menanyakan, yaitu mengapa harus berkonsultasi dengan Rektor segala. Saya jelaskan bahwa yang berlaku di instansi pemerintah, semua anggaran untuk kegiatan di kampus harus memperoleh persetujuan Rektor.

Mendengar penjelasan tersebut, dr. Aswin Roses Yusuf menanyakan tentang peruntukan anggaran dimaksud. Saya menjelaskan bahwa anggaran itu untuk biaya transportasi, hotel, dan akomodasi, yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Mendapatkan penjelasan itu, Pembina organisasi Islam tersebut melanjutkan pertanyaannya, yaitu apakah kajian al Qur'an dan Hadits tersebut tidak bisa diselenggarakan di kampus. Jika kegiatan itu di kampus, mengapa harus ada biaya transportasi dan juga hgotel. Segera saya menjawab bahwa, biaya transportasi, hotel dan lain-lain tersebut adalah untuk dr. Aswin Rose Yusuf selaku pembicara. Jawaban saya tersebut direspon dengan sangat mengharukan, yang hal itu tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Beliau mengatakan bahwa, kedatangannya ke UIN Malang adalah untuk berbicara tentang al Qur'an dan Hadits Nabi. Oleh karena itu, menurut pandangannya, tidak boleh berharap untuk memperoleh upah. Semua yang diperlukan terkait kehadirannya itu akan dibiayai sendiri.

Dr. Aswin Rose Yusuf kemudian menjelaskan bahwa di dalam al Qur'an terdapat ayat pendek yang seharusnya dijadikan pegangan, yaitu pada surat Yaasin, ayat 21 mengatakan : 'Ittabi'uu mal laa yas-alukum ajraw wahum muhtaduun', artinya : ikutilah orang-orang yang tidak minta upah kepadamu, sedang mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Mendengarkan penjelasan itu, saya benar-benar terharu. Di Tengah-tengah banyak orang tidak sanggup mendatangi undangan Majlis Kajian al Qur'an dan Hadits dalam jarak dekat jika tanpa diberi upah, dan bahkan ada pula yang justru menentukan tarif tinggi, namun ternyata masih ada orang yang memegangi petunjuk al Qur'an. Ia tidak mau dibayar dan bahkan semua pembiayaan kedatangannya dikeluarkan dari sakunya sendiri. Sungguh hal itu merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi, tetapi adalah amat mulia. Wallahu a'lam. 

Seminggu setelah mengikuti kegiatan Jam'iyyatul Islamiyah di Medan, saya diundang pada kegiatan yang sama, di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. Ir. Sunyoto mengundang dr. Aswin Rose Yusuf, selaku Pembina Jam'iyyatul Islamiyah, untuk berbicara di hadapan para Guru besar UGM membahas tentang Al Qur'an dan Ilmu Pengetahuan. Atas undangan dimaksud saya hadir pada kegiatan tersebut

Sebanyak tiga kali mengikuti kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh organisasi keagamaan yang baru saja saya mengenalnya tersebut, saya semakin memperoleh pemahaman tentang cara memahami al Qur'an dan hadits Nabi yang selama ini saya cari-cari. Pada setiap kegiatan seminar dimaksud, yang saya merasa lebih tepat menyebut kegiatan itu dengan istilah kajian al Qur'an dan Hadits bersama dr.H. Aswin Rose Yusuf, saya memperoleh berbagai konsep dan secara langung dijelaskan dengan merujuk pada al Qur'an dan hadits Nabi.

Dalam kajian itu, Pembina Jam'iyyatul Islamiyah rupanya sengaja tidak menyampaikan pendapat atau gagasannya sendiri. Jawaban atas persoalan yang dibahas, oleh beliau ditunjukkan jawabannya pada al Qur'an dan atau Hadits Nabi. Dr.H Aswin Rose Yusuf, sekalipun seorang dokter dan tidak pernah belajar di pesantren dan juga di perguruan tinggi Islam, ternyata dengan lincahnya mampu menunjukkan ayat-ayat al Qur'an sebagai jawabannya. Terasa sekali, beliau sangat menguasai isi al Qur'an dan Hadits Nabi.

Berbagai pertanyaan yang diajukan secara mendadak sekalipun, berhasil dijawab dengan jelas. Jawaban-jawaban yang diberikan itu terasa khas dan tidak jarang berperspektif baru, namun terasa lebih tepat dan masuk akal. Rupanya beliau sangat berhati-hati dalam berpendapat. Sepanjang jawaban tentang sesuatu hal telah tersedia di dalam al Qur'an maupun Hadits Nabi, maka ahli bedah jantung tersebut tidak mengajukan jawaban selainnya. Cara tersebut lebih dipilih dengan alasan bahwa, ketika beliau menyampaikan gagasannya sendiri, maka orang lain juga akan mengajukan gagasannya yang mungkin saja berbeda, dan demikian pula orang yang berbeda lainnya.

Saling berlomba gagasan atau pendapat mungkin ada untungnya, tetapi juga akan menjadi semakin rumit untuk menyatukannya. Pada kenyataannya, menyatukan gagasan yang berbeda-beda itu lebih sulit dibanding menjalankan gagasannya itu sendiri. Sebagai akibatnya, dengan banyaknya gagasan atau pendapat itu, maka dikhawatirkan umat Islam hanya sibuk memperdebatkan gagasan, dan bukan menjalankan perintah, peringatan, petunjuk al Qur'an dan Hadits Nabi. Selain itu, semakin banyak pendapat, maka umat Islam akan berpecah belah yang diakibatkan oleh banyaknya gagasan atau pendapat yang berbeda-beda sebagaimana dimaksudkan itu.

Pada kesempatan mengikuti kajian al Qur'an dan Hadits Nabi yang diselenggarakan oleh Ketua Dewan Guru Besar UGM, saya yang sebelumnya ditunjuk sebagai Ketua Dewan Penasehat, ----sekalipun baru seminggu, ternyata jabatan itu diubah lagi, yaitu menjadi Ketua Umum Jam'iyyatul Islamiyah. Sebelumnya, jabatan itu dipegang oleh Prof. Dr. Azhar Arsyad, mantan Rektor UIN Alauddin, Makassar. Dalam organisasi keagamaan ini, jabatan ternyata sama sekali tidak pernah diperebutkan. Siapa saja yang dipandang pantas dan atau layak memimpin, maka sewaktu-waktu bisa ditunjuk. Hal yang menarik lagi, penunjukkan itu asalkan dilakukan oleh Pembina, maka pengurus atau anggota lainnya akan mengikutinya.

Sebagai orang baru yang belum banyak mengerti tentang Jam'iyyatul Islamiyah tentu merasa kaget. Akan tetapi, segera diberikan penjelasan bahwa, di organisasi ini terbiasa dilakukan pergantian pengurus secara mendadak. Pergantian pengurus pada Jam'iyyatul Islamiyah sama sekali tidak menimbulkan gejolak, rasa sedih, kecewa, atau lainnya. Pada organisasi keagamaan ini dikembangkan suasana ikhlas, sabar, saling mempercayai, semuanya diajak berlomba untuk menjalankan kebaikan, menjaga atau merawat hati, menjauhkan diri masing-masing dari sepuluh akhlak buruk, dan sejenisnya. Menunjukkan sifat negatif, tidak ikhlas misalnya, akan merasa malu sendiri.

Setelah penunjukan sebagai ketua umum Jam'iyyatul Islamiyah, ternyata tidak ada orang yang memberikan ucapan selamat. Memang, setelah mendengarkan keputusan tersebut, wajah para anggota organisasi ini, menunjukkan suasana haru. Akan tetapi, jabatan sebagai pengurus, bahkan sebagai Ketua Umum sekalipun, rupanya bukan dianggap sebagai sesuatu yang berlebih. Jabatan selalu dikaitkan dengan amanah. Di lingkungan Jam'iyyatul Islamiyah terasa tidak ada strata sosial yang mendasarkan pada jabatan seseorang dalam organisasi. Strata yang sebenarnya adalah akan dilihat dari sejauh mana seseorang berhasil menjaga hatinya masing-masing. Orang yang paling bertaqwa itulah yang dianggap berstrata tinggi atau paling mulia di antara sesama, dan bukan seseorang yang diberi amanah memimpin organisasi. Wallahu a'lam
Copyright ©

Baca juga :


KH.Abdul Karim Djamak


KH.Abdul Karim Djamak

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Nama lengkapnya KH.Abdul Karim Djamak, Gelar Timo Daharo Tunggak Nagari Mandapo Rawang koto teluk tiang agama sakti Alam Kerinci. Beliau akrab dipanggil Wo (sebuah panggilan lebih tua di Kerinci) Meninggal di RS Pelni Jakarta 28 April 1996 bertepatan dengan 10 Zulhijah 1416 H dalam usia 89 tahun.

Ayahanda yang mulia telah tiada, pergi meninggalkan kita semua untuk selama lamanya. Begitu banyak kenangan yang indah serta suri tauladan yang ditinggalkannya. Sabar penuh pengertian serta kasih sayang yang selalu menjadi sikap hidupnya. Tabah dan teguh dalam menghadapi fitnah, cobaan dan hasutan. Penuh rasa syukur atas karunia Allah SWT yang menjadi patokan hidupnya. Sabar jua lah yang menjadi pelajaran berharga baginya. Tiada yang dapat kita berikan padanya. Kecuali melaksanakan amanahnya




Memposisikan Abdul Karim Jamak sebagai Ulama Asia Tenggara dari Kerinci, Jambi, Indonesia. Positioning Abdul Karim Jamak as a Southeast Asia Ulama from Kerinci, Jambi, Indonesia

Oleh : Ahmad Zuhdi

Mahasiswa Akademi Pengajian Islam, J urusan Akidah dan Pemikiran IslamUniversiti Malaya, Jalan University, 50603 Kuala Lumpur, MalaysiaEmail: f7zuhdi@um.edu.my 


KH.Abdul Karim Jamak masih menjadi pembicaraan dalam fenomena keagamaan di Jambi, Sumatera bahkan Asia Tenggara. Aktivitasnya yang banyak dilakukan di Kerinci, sebagai satu tempat yang cukup sukar dijangkau dulu, menjadi kontroversial dengan banyak cerita tambahan tentangnya. Penelitian ini ingin mendalami biografi dan peran Abdul Karim Jamak dalam kegiatan dakwah Islam serta mendeskripsikan beberapa hasil penelitian sebelum ini tentang tokoh Islam dari Kerinci tersebut. Hasil penelitian ini sendiri memperlihatkan bahwa kontroversial tentang Jamaah Islamiyah yang dipimpin Abdul Karim Jamak bukanlah kelompok yang sesat. Bahkan, Abdul Karim Jamak berperan besar dalam islamisasi dan layak diposisikan sebagai salah seorang ulama Nusantara, bahkan ulama Asia Tenggara dari Kerinci, Indonesia. Kata Kunci: Abdul Karim Jamak, Ulama Kerinci, dan Asia Tenggara.

Abstract: Abdul Karim Jamak almost straight into a discussion of the religious phenomenon in Kerinci, Sumatra and even in Southeast Asia. His activities are mostly done in Kerinci, as a place that is quite difficult to reach once, to be controversial with many additional stories about him. This study wants to explore the biography of Abdul Karim Jamak and his role in Islamic missionary activity, and to describe some of the results of the research before about this an Islamic ulama of the Kerinci. The results of this study itself show that controversial stories about Jamaah Islamiyah led by Abdul Karim is not an Islamic deviant splinter group. In fact, Abdul Karim plays an important role in islamization and could be positioned as one of the scholars of the archipelago, and even Southeast Asia ulama from Kerinci, Indonesia. Keywords: Abdul Karim Jamak, Ulama Kerinci, and Southeast Asia.

A. Pendahuluan
Sebagai anak sulung, Abdul Karim Jamak atau biasa dipanggil oleh masyarakat sebagai Buya Karim Jamak atau Karim Jamak, telah mengawali hidupnya sebagai nelayan, pekerjaan tersebut dia tekuni untuk membantu orang tua. Karim Jamak meneruskan kerja sewaktu kecil dan tetap menuntut ilmu. Dia nampak memiliki pemikiran yang berbeda dengan pemikir yang lain, hingga dapat dijuluki sebagai seorang modernis, reformis, bahkan kontroversial. Karim Jamak berusaha mengajarkan masyarakat supaya sesuai dengan ajaran Rasulullah, serta berusaha mengembangkan nilai keislaman dari dalam diri tanpa ada perlawanan batiniah, yang selalu mengajak orang tersesat dan jauh dari ajaran agama. 

Kegiatan mendidik masyarakat dia lakukan melalui pengajian rutin dan dakwah. Meskipun diminta datang mengajar agama oleh masyarakat muslim dari berbagai lokasi atau daerah,Karim Jamak tetap menghadiri untuk menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT. Karim Jamak memulai mengembangkan ajaran Islam yang dianggap kontroversi oleh masyarakat dengan metode penyiaran dan metode organisasi, serta gaya politik yang dapat diterima oleh masyarakat luar dari daerah Kerinci lainnya. Meskipun berbagai tantangan yang harus dihadapinya, Karim Jamak terus menjalankan tiga cara dakwahnya tersebut. Ketiga metode ini nampak sederhana, tetapi dia telah membuka mata umat Islam untuk setia memilih Islam sebagai agama yang benar. Pendidikan keagamaan diperolehnya sejak kecil dari keluarga.

Karim Jamak dilahirkan di desa Tanjung Rauang, kecamatan Hamparan Rauang, Kabupaten Kerinci pada tahun 1906 M, bertepatan 12 Rabiul Awal 1326 H. Ayahnya Tengku Muhammad Jama’at dan ibunya Sa’minah binti MMuMuhammad 1.

Karim Jamak adalah anak pertama dari sepuluh (menjadi delapan) bersaudara dan dididik dalam keluarga yang melaksanakan ibadah sebelum Ia mendapat pendidikan di sekolah. Ia menimba ilmu dari kedua orang tuanya, terutama ilmu-ilmu agama, seperti ilmu fiqh, ilmu tauhid, dan tasawuf serta ibadah. Selain dari ayah dan ibu, Karim Jamak sewaktu kecil juga diasuh oleh Haji Muhammad Thaib yang juga kakeknya, serta Haji Kari Ahmad. Dia juga pernah dibimbing dan mendapat pelajaran agama dari Syaikh Muhammad Khatib Kadhi, Hakim Agama Kabupaten Kerinci yang merupakan kakeknya .

Karim Jamak, sebagaimana yang dijelaskan oleh adiknya, Abdul Rasyid,3 adalah keturunan Arab dari ayah yang susunan keturunannnya sampai ke Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Neneknya yang berasal dari Kerinci. Secara khusus pekerjaan Karim Jamak sebagai Guru Agama Islam dan Pembina Jam’iyatul Islamiyah.

Akan tetapi selain dari pekerjaan sebagai guru agama, sebagai anak pertama Karim Jamak bertanggung jawab untuk membantu kedua orang tuanya, dalam memberikan bantuan belanja hidup bagi adik-adiknya. Karena adik-adik Karim Jamak masih bersekolah secara formal dan di pondok Pesantren. Dengan kebijaksanaan, mencoba hidup sebagai nelayan, memasang jaring (pukat), memasang lukah, menjala ikan yang dapat menghasilkan uang, walaupun pekerjaan ini dapat dikatakan berat, namun Ia tetap yakin kepada Allah swt. agar diberkati.

Pekerjaan ini Ia lakukan tanpa merasa letih dan lelah. Ternyata kesibukan dalam membantu kedua orang tua mencari nafkah, Iapun masih dapat meluangkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. sehingga Karim Jamak mendirikan sebuah surau tempat untuk beribadah, solat, zikir dan sebagainya di pinggir sungai Tanjung Rauang.

Namun terdapat segelintir masyarakat yang tidak senang dengan usahanya, Iapun memindahkan tempat ibadahnya di Muaro Air desa Kumun .

Perpindahan Karim Jamak dari Tanjung Rawang turut mengilhami Karim Jamak untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama 8. Ramainya orang yang tidak percaya akan kemampuan Karim Jamak sehingga tidak sedikit terlontar kata-kata yang tidak sehat terhadapnya9 justru Karim Jamak semakin yakin dan percaya bahwa menerapkan ilmu pengetahuan terutama agama tidak lah mudah. Bahkan dimana-mana pasti menghadapi tantangan. Situasi tersebut membuat Karim Jamak menjadi terkenal, karena Ia sendiri berusaha menerima anggapan buruk dari orang lain dengan sikap yang bijaksana, bahkan mengatakan sebagai muslim tidak seharusnya saling memusuhi, membenci apalagi berlaku kasar. Ungkapan-ungkapan seperti ini selalu Karim Jamak sampaikan kepada anak-anak Karim Jamak dan juga kepada pengikut-pengikutnya10.

Ajaran yang disampaikan oleh Karim Jamak, sebenarnya merupakan tuntunan dari Rasulullah saw. dalam sabdanya:

”Muslim yang baik adalah jika muslim lain merasa tentram dari perkataan dan perbuatannya”.

Meskipun kegiatan sehariannya membantu orang tua, tetapi Karim Jamak juga tetap gigih bersemangat untuk belajar beberapa ilmu agama, terutama fardu ‘ain dan tauhid. Karim Jamak banyak bertanya kepada teman-teman sebayanya, lalu Ia mencoba memahami dan mendalaminya. Sehingga dalam waktu yang singkat pengetahuan yang didapatnya mampu pula diajarkan kepada yang lain. Karim Jamak berfikir bahwa untuk apa dia memiliki dan mempunyai ilmu jika tidak diamalkan dan diajarkan kepada orang lain yang juga berhak untuk mengetahui apa yang mereka tidak tahu, tidak akan miskin karena memberikan ilmu kepada orang lain12

B. Pendidikan Abdul Karim Jamak
Karim Jamak memperoleh pendidikan keagamaan kedua dari kakek dan pamanya, selain yang pertama-tama dari orang tua. Dia lahir dalam keluarga Islam, maka tidak sukar baginya untuk mempelajari ilmu-ilmu yang ada dalam lingkungan keluarga sendiri. Dia tidak pernah menerima pendidikan secara formal.

Berikut diuraikan beberapa tahapan pendidikan Karim Jamak :

Pendidikan Karim Jamak pada usia 01 – 12 tahun. Pendidikan awal Karim Jamak, dimulai dari orang tuanya. Pada usia ini Ia belajar tentang akhlak, fardu ‘ain, ilmu fikih, ilmu tauhid dan tasawuf serta akidah-akidah yang bersangkut paut dengan tauhid, mengikuti sunnah wal jamah berdasarkan Al-Quran dan Hadis Rasulullah saw13. Orang tuanya mendidik Karim Jamak bagaimana tata cara shalat, berwudu serta berpuasa14. Pendidikan seperti terus berlanjut sehingga Karim Jamak berusia 13 tahun.

Pendidikan Karim Jamak pada usia 13 – 21 tahun. Ia lebih banyak belajar kepada kakek Karim Jamak Muhammad Taib, yang merupakan seorang ulama. Dari kakeknya inilah Karim Jamak mendalami ilmu-ilmu yang luas tentang Islam. Seperti ilmu akidah, tauhid dan tasawuf15. Disamping menimba ilmu dari bapa saudaranya, Karim Ahmad dan Muhammad Khatib, Ia juga diberi kepercayaan mengajar di mushalla16

Pendidikan Karim Jamak pada usia 22 – dewasa. Pada usia ini, Karim Jamak sudah memiliki kematangan dalam mengajarkan ajaran Islam, Ia juga pernah belajar ilmu agama kepada Buya Hamka, di Jakarta17. Sebagai anak sulung, Ia sering mendapat kepercayaan orang tuanya dalam membantu adik-adiknya. Sehingga dimasa mudanya Ia lebih rajin dan tekun bekerja serta giat berusaha.

Karim Jamak yang hidup dalam situasi sosial dan politik di Hindia Belanda pada awal abad ke dua puluh, telah ikut berjuang dalam penyiaran pengembangan ajaran Islam, hingga memasuki lingkungan pendidikan. Keadaan pendidikan dan politik di zaman penjajahan, ketika itu sangat terbatas, karena semua kegiatan masyarakat diawasi dan di jaga oleh Belanda. Sehingga tidak heran bila sistem pendidikan Islam sering dijadikan mangsa yang harus berhadapan dengan peraturan penjajah. Keadaan inilah yang telah membangkitkan kesedaran warga, khusunya di Kerinci, dan juga golongan ulama, yang berkelanjutan meyakinkan umat Islam makna pendidikan yang lebih terorganisir dan terpimpin. Meskipun demikian bukan berarti Ia tidak belajar sama sekali, dia belajar kepada guru guru yang dekat dan mudah di datangi, termasuklah H. Maktib sebagai Kali Hakim di Zaman Belanda, H. Muhammad Thaib kakeknya, bapak dari ibu yang wafat di Mekah, H. Karim Ahmad kakek Paman Kandung dari Ibunya yang juga wafat di Mekah, dan Tengku Muhammad Jum’at ayah Ia sendiri. Pada tahun 1969 ia bersama temannya Amir Usman yang berasal dari desa Kumun-Sungai Penuh mendapat bimbingan dan petunjuk di bidang agama Islam dari Prof. Dr. Hamka di Jakarta.

Menurut Abdul Rasyid, Karim Jamak memiliki prinsip dan tekad hidup, yaitu sepanjang ada peluang dan kesempatan untuk belajar dia akan mengikut dan mempelajarinya. Sikap rajin bertanya, mendiskusikan perkara yang belum diketahui dan dipahami, dan ia tidak merasa malu menemui guru bila sesuatu perkara masih meragukannya. Ia tidak pernah putus asa, senantiasa berharap kepada Allah swt. Karim Jamak berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang dapat memberikan kenikmatan rohaniah, yang dapat memberikan kesenangan dan membahagiakan orang lain. Disisi lain Karim Jamak juga memperjuangkan hidupnya dengan mendalami ilmu pengetahuannya. Ilmu-ilmu yang Ia dapatkan diamalkannya, dia senantiasa menjalani ibadah dan zikir kepada Allah swt., dan bahkan Ia selalu bermunajat disaat malam. Inilah bentuk amalan rutin yang dikerjakannya. Amalan-amalan tersebut ia lakukan sebagai bukti pemahamannya tentang ayat Allah dalam Al-Quran yang terjemahnya: “Mereka beribadat malam dan siang, Dengan tidak situasi lingkunganb henti.”. Meskipun keluarga yang tidak memungkinkan ia belajar tinggi sebagaimana teman-teman sezaman dengannya. Tetapi Karim Jamak tidak pernah berputus asa ataupun menyerah dengan nasib. Anak kandung Ia menceritakan tentang keseriusan dan semangat Ia, yang paling menarik pada Karim Jamak adalah, Ia sangat bersungguh dalam menerapkan ilmu dan amalannya, dalam bentuk keyakinan, perbuatan dan juga apa yang sepatutnya ditinggalkan, ia juga mampu memberikan keseimbangan antara kehidupan material dan spritual.

Seiring dengan pemahaman dan pengetahuan Karim Jamak diatas, tidaklah salah sekiranya ada persamaan pemikiran Karim Jamak dengan ulama besar lainnya seperti apa yang disebutkan oleh Ibnu Qadamah yang benar adalah ilmu mu’amalah hamba terhadap Rabbnya. Mu’amalah yang dibebankan di sini meliputi tiga macam, yaitu;
  1. Keyakinan,
  2. Perbuatan,
  3. Apa yang harus ditinggalkan 
Keadaan keyakinan yang ditunjukkan Karim Jamak mengajarkan agama dengan menggunakan metode ilmu ketuhanan yang berawal dari suatu kepercayaan bahwa Allah melihat kekhusukan ibadah hambanya ketika berada dihadapan Ka’bah26. Sedangkan ulama Kerinci tidak menyebutkan hal-hal seperti Karim Jamak tersebut. Sehingga timbul sanggahan dari Majelis Ulama Kerinci, dengan menyatakan bahwa Karim Jamak membuat “sesuatu” yang baru atau “mengada-ada”. Pendapat lain yang berkaitan dengan Karim Jamak tersebut, menjelaskan hal yang demikian dipandang wajar, seperti yang dikemukakan oleh Eric. J. Sharpe; bahwa kecintaan terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat, merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis

Berdasarkan kenyataan seperti ini, maka benar jika muncul suatu usaha manusia untuk memahami penghayatan imannya atau penghayatan agamanya, suatu penafsiran atas sumber-sumber aslinya dan tradisi dalam konteks permasalahan masa kini, yaitu teologi yang bergerak antara dua kutub, yaitu teks dan situasi atau konteks, masa lampau dan masa kini. Hal demikian mesti ada dalam setiap agama meskipun dalam bentuk dan fungsi yang berbeda-beda.

ORANG-ORANG YANG MENAFKAHKAN HARTANYA DI JALAN ALLAH

Firman Tuhan QS(2)261-271 dan 273


مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ


Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. QS(2)261


اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُوْنَ مَآ اَنْفَقُوْا مَنًّا وَّلَآ اَذًىۙ لَّهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ


Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. QS(2)262


قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى ۗ وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun. QS(2)263


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ


Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. QS(2)264


وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ وَتَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۢ بِرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ فَاٰتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِۚ فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ


Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. QS(2)265


اَيَوَدُّ اَحَدُكُمْ اَنْ تَكُوْنَ لَهٗ جَنَّةٌ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ لَهٗ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۙ وَاَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهٗ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاۤءُۚ فَاَصَابَهَآ اِعْصَارٌ فِيْهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ ࣖ


Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya. QS(2)266


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ 

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji. QS(2)267

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ۖ  

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. QS(2)268

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ 

Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat. QS(2)269

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ نَّفَقَةٍ اَوْ نَذَرْتُمْ مِّنْ نَّذْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُهٗ ۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ  

Dan apa pun infak yang kamu berikan atau nazar yang kamu janjikan, maka sungguh, Allah mengetahuinya. Dan bagi orang zalim tidak ada seorang penolong pun  QS(2)270


اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ 


Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.  QS(2)271


 لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗوَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ  


Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).   QS(2)272


لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ  تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ  لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًا ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ 


(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia yang tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui.   QS(2)273


Semua umat islam tentu mau, tampa beramal. 


Begitu disampaikan kabar suka - kabar takut, berjuang dengan harta dan dirinya, KEBANYAKAN MEREKA ITU MUNDUR, TAKUT RUGI. PADAHAL SUDAH BERUNTUNG DARI RUGI, SUDAH SENANG DARIPADA SUSAH,S SEHAT DARIPADA SAKIT. 


Oleh sebab itu, Peringatan Tuhan; 


Firman Tuhan QS(61)11: “Tu'minuuna billahi warasuulihi watujaahiduuna fii sabiilillahi biamwaalikum wa-anfusikum dzalikum khairun lakum in kuntum ta'lamuun(a).” 


Artinya: “Maka berimanlah (PERCAYALAH) kamu kepada Allah dan RasulNya dan BERJUANGLAH PADA JALAN ALLAH dengan HARTA DAN DIRI. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, JIKA ADA KAMU MENGETAHUI.” 


Apabila kita mengamalkan, BERJIHAD di jalan Allah dengan Harta dan Diri,


artinya: TIDAK DENGAN HARTA, DENGAN DIRI,Tapi DENGAN DIRI, DENGAN HARTA, Atau DENGAN DIRI SERTA DENGAN HARTA. 


Firman Tuhan QS(61)12: “Yaghfir lakum dzunuubakum wayudkhilkum jannaatin tajrii min tahtihaal anhaaru wamasaakina thai-yibatan fii jannaati 'adnin dzalikal fauzul 'azhiim(u).” 


Artinya: “Maka Allah MENGAMPUNI SEGALA DOSA dan MEMASUKKAN KAMU KE DALAM SURGA yang mengalir air sungai di bawah pohon-pohon yang indah, TEMPAT YANG BAIK DI SURGA ADN. Itulah keberuntungan yang besar bagi orang-orang yang BERJIHAD DI JALAN ALLAH dengan HARTA DAN DIRINYA.” 


Firman Tuhan QS(61)13: “Wa-ukhra tuhibbuunahaa nashrun minallahi wafathun qariibun wabasy-syiril mu'miniin(a).” 


Artinya: “Dan lagi suatu PERTOLONGAN DARI ALLAH yang kamu menyukainya, dengan KEMENANGAN YANG DEKAT; TERBUKALAH PINTU , SURGA BERJUMPALAH MEREKA ITU DENGAN TUHANNYA. Berilah kabar suka kepada orang-orang yang mukmin.”


Demikian disampaikan sebagai bahan pertimbangan guna memperoleh makna yang sesungguhnya. 


Billahi taufiq wal hidayah, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 


AR Yusuf Pembina JmI 

1-3-2018